Written by:  dr. Alexandra Francesca Chandra, MRes


Proloterapi adalah terapi injeksi menggunakan cairan iritan alamiah, umumnya dextrose hipertonik, untuk cedera musculoskeletal kronik. Pada prinsipnya, injeksi sedikit cairan iritan pada titik-titik yang nyeri seperti di sambungan tendon, ligamen, atau di celah sendi, dapat memicu reaksi penyembuhan lokal di area yang diinjeksi tersebut. Istilah proloterapi berasal dari terapi injeksi yang disebut proliferant therapy yang mulai lazim digunakan pada tahun 1950.1,2

Tujuan Proloterapi

Proloterapi dimaksudkan untuk meredakan nyeri sendi dengan menginjeksikan cairan iritan yang memicu reaksi penyembuhan lokal pada jaringan yang diinjeksi. Cairan iritan ini berfungsi sebagai nutrisi, juga untuk merangsang kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki jaringan yang rusak.1-3

Keamanan dan Efektivitas Proloterapi

Berbagai penelitian menyatakan bahwa proloterapi adalah alternatif yang aman untuk penanganan nyeri sendi selain dengan obat-obatan. Proloterapi juga bisa digunakan untuk kondisi medis yang belum mencapai tingkat keparahan tertentu yang harus dioperasi.2,3

Berbagai penelitian mengemukakan bahwa proloterapi efektif dalam meredakan nyeri sendi karena terapi ini memperbaiki / memperkuat kembali jaringan sendi tersebut. Oleh karena proloterapi mengandalkan kemampuan alamiah tubuh untuk memperbaiki / meregenerasi dirinya sendiri, proloterapi dipercaya dapat meningkatkan stabilitas sendi dan memperbaiki fungsi sendi secara alamiah dan permanen. Hal inilah yang membedakan proloterapi dengan obat-obatan pereda nyeri, karena obat-obatan pereda nyeri hanya bersifat sementara.1-3

Kondisi Medis Yang Memerlukan Proloterapi

Ada berbagai keluhan sendi yang bisa ditatalaksana dengan proloterapi antara lain:2,3

  • Nyeri punggung bawah
  • Nyeri pinggang
  • Nyeri lutut
  • Nyeri bahu
  • Nyeri sendi / ligament lainnya

Beberapa contoh kelainan medis yang umum diberikan proloterapi, seperti:2,3

  • Osteoartrosis lutut
  • Tennis elbow
  • Tendonitis (radang tendon)
  • Cedera Rotator cuff
  • Arthritis

Cara Kerja Proloterapi

Proloterapi menggunakan injeksi cairan iritan alamiah (seperti dextrose hipertonik) yang diinjeksikan ke target area sendi yang nyeri. Setelah diinjeksikan, cairan ini akan memicu munculnya reaksi radang sementara di area tersebut. Sel-sel radang yang teraktivasi akan datang ke area sendi yang diinjeksi dan menimbulkan reaksi kimia yang memicu pertumbuhan sel baru dan perbaikan jaringan sendi / tendon / ligamen yang rusak. Seiring dengan berjalannya proses perbaikan jaringan (penyembuhan) ini, sendi / tendon / ligamen akan kembali stabil dan menjadi lebih kuat, sehingga nyeri pun menghilang. Oleh karena itu, presisi lokasi injeksi pada proloterapi sangatlah penting agar tepat pada target area yang membutuhkan perbaikan jaringan.1-3

Prosedur Proloterapi

Sebelum mendapat proloterapi, pertama-tama pasien dengan nyeri sendi atau punggung akan dievaluasi dokter terlebih dahulu. Pasien dengan nyeri sendi akibat penyakit kronik yang sudah mencapai tingkat keparahan tertentu mungkin kurang cocok untuk proloterapi dan bisa disarankan dokter untuk alternatif terapi lainnya. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap sendi tersebut dan umumnya mengevaluasi sendi yang dimaksud dengan pencitraan yang sesuai, misalnya rontgen / CT scan untuk menilai lokasi dan tingkat keparahan yang terjadi.

Apabila dianjurkan untuk proloterapi, pasien sebaiknya berhenti mengonsumsi obat anti-inflamasi (anti-radang) baik steroid (misalnya prednisone, metilprednisolone) maupun non-steroid (misalnya aspirin, ibuprofen, diklofenak, celecoxib) selama 2-3 hari belum prosedur proloterapi. Hal ini dikarenakan obat-obatan anti-radang ini dapat menghambat efektivitas proloterapi.4

Prosedur proloterapi dimulai dengan sterilisasi area kulit lokasi injeksi dengan alcohol swab atau cairan pembersih steril lainnya. Lalu dilakukan injeksi cairan dextrose hipertonik ke beberapa titik yang menargetkan celah sendi, tendon, dan ligament yang mengalami gangguan. Prosedur ini juga dapat dilakukan dengan panduan ultrasonografi (USG) sehingga lokasi penyuntikan lebih presisi.

Frekuensi Proloterapi

Frekuensi penyuntikan bervariasi tergantung dari kelainan/penyakit dan tingkat keparahan yang terjadi. Secara umum, proloterapi dapat dilakukan sekitar 5 sampai 6 sesi dengan selang 1-2 minggu antar sesi penyuntikannya. Dalam satu sesi penyuntikan, dokter umumnya melakukan injeksi pada beberapa titik sekitar area sendi yang menjadi target. Jumlah titik ini tergantung dari seberapa luas area sendi yang mengalami kelainan / penyakit / gangguan.

Efek Samping Proloterapi

Bahan yang disuntikkan adalah dextrose sehingga efek samping minimal dan jarang berinteraksi dengan obat-obatan lain yang dikonsumsi pasien. Sekalipun kemungkinannya kecil, berikut beberapa efek samping yang mungkin terjadi:4

  • Infeksi di area bekas suntikan
  • Bengkak / nyeri / kemerahan di area bekas suntikan sesaat setelah prosedur
  • Demam (bila terjadi infeksi)

Ada kemungkinan efek samping sementara (seperti bengkak/nyeri) muncul segera setelah proloterapi, sehingga sendi bisa terasa memburuk sebelum akhirnya membaik.4


Unduh Brosur


Referensi

  1. Rabago D, Patterson JJ, Mundt M, Kijowski R, Grettie J, Segal NA, et al. Dextrose Prolotherapy for Knee Osteoarthritis: A Randomized Controlled Trial. Ann Fam Med [Internet]. 2013 May 1;11(3):229 LP – 237. Available from: http://www.annfammed.org/content/11/3/229.abstract
  2. Distel LM, Best TM. Prolotherapy: A Clinical Review of Its Role in Treating Chronic Musculoskeletal Pain. PM&R [Internet]. 2011 Jun 1;3(6S):S78–81. Available from: https://doi.org/10.1016/j.pmrj.2011.04.003
  3. Reeves KD, Sit RWS, Rabago DP. Dextrose Prolotherapy: A Narrative Review of Basic Science, Clinical Research, and Best Treatment Recommendations. Phys Med Rehabil Clin N Am. 2016 Nov;27(4):783–823.
  4. Fletcher J. What is prolotherapy and what is it used to treat? Medical News Today. 2017 Dec 17;

 

Chat with us